Saham Energi Paling Bergairah, Saham Teknologi kok Loyo?

JAKARTA, investor.id – Indeks sektor saham energi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kenaikan tertinggi dibandingkan sektor-sektor lainnya selama Januari 2022. Energi BEI melesat 13,6% ke level 1.294,8 hingga perdagangan Senin (31/1).

Setelah energi adalah indeks saham transportasi (BEI-Trans) yang tumbuh 6,6% ke level 1.704.8. Kemudian, indeks saham keuangan (IDXFinance) dan saham kesehatan (Kesehatan BEI) yang masing-masing meningkat 2.2% ke level 1.560.1 dan 1.451.

Kenaikan indeks empat sektor tersebut di atas pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang Januari 2022 yang sebesar 0.8% ke level 6.631.1 dan indeks LQ45 yang hanya tumbuh 0.9% ke posisi 939.6.

Bacajuga: Jelang Pertemuan OPEC+, Minyak Menguat Lagi

Sementara itu, indeks saham sektor lainnya tercatat minus. Industri BEI -0,5%, Non-Siklus BEI -1,1%, Dasar BEI -1,3%, Siklus BEI -1,6%, IDX Infra -4,2%, Properti BEI -7,8%, dan paling terpuruk adalah Teknologi BEI -12,3%.

Adapun melesatnya harga saham-saham energi ditopang oleh penguatan tajam pada komoditas saham-saham. Misalnya minyak, batu bara, CPO, nikel, dan timah. Baru-baru ini, pengamat pasar modal dari MNC Asset Management Edwin Sebayang mengatakan bahwa saham-saham komoditas layak dicermati, seiring kenaikan harga batu bara yang cukup tajam. Namun, di sisi lain, pasar masih dihantui ‘panas’-nya inflasi yang akan mendorong Suku Bunga Dana Fed (FFR) naik lebih cepat dan bisa menekan ekuitas.

Mengenai saham teknologi yang tahun lalu sempat berjaya, pengamat pasar modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Reza Priyambada menjelaskan bahwa sektor tersebut terbilang hal baru bagi pelaku pasar. Di sisi lain, teknologi itu merupakan sesuatu yang terkait dengan masa depan. Alhasil, sangat sulit diperkirakan untuk tersedia. Namun, pelaku pasar menganggap bahwa perusahaan di bidang teknologi akan berkembang ke depan, sehingga permintaannya tinggi terhadap saham ini.

Baca Juga   Menparekraf sebutkan tiga perusahaan teknologi yang akan tumbuh di masa depan

Bacajuga: Februari, IHSG Bakal Miliki Kembali Positif

“Valuasi saham itu ditentukan kinerjanya, ternyata kinerja perusahaan teknologi banyak yang kinerjanya kurang baik. Pada akhirnya membuat pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual,” ungkap Reza.

Misalnya, saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA). Menurut Reza, saat pelaku pasar ini masih menikan langkah selanjutnya yang dilakukan oleh perusahaan setelah mendapatkan dana IPO yang sangat besar. Tidak hanya itu, pelaku pasar tengah kinerja perusahaan setelah IPO ini. “Apakah Di barisan dengan perolehan dana yang diperoleh dari IPO tersebut untuk ekspansi? Namun, hal ini masih belum sepenuhnya terlihat oleh pelaku pasar. Akhirnya, melakukan aksi jual,” ujarnya.

Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

.


Source link