Pengurus Tempat Ibadah Diminta Perketat Protokol Kesehatan

Jakarta: Menteri Agama Yaqut Choli Qoumas meminta pengurus tempat ibadah dan jemaah memperketat protokol kesehatan (prokes) selama beribadah. Kedisiplinan prokes penting guna menekan kasus covid-19 yang tengah meningkat.

Hal tersebut termuat dalam Surat Edaran (SE) Menag terbaru Nomor SE.04 Tahun 2022 tentang Pelaksanaan Peribadatan/Keagamaan Di Tempat Ibadah Pada Masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 3, Level 2, dan Level 1 Corona Virus Disease 2019 di Wilayah. Panduan terbaru itu ditetapkan pada Jumat, 4 Februari 2022.

“Pengurus dan pengelola tempat ibadah wajib menyediakan petugas untuk informasi serta mengawasi pelaksanaan prokes,” tulis di SE seperti dikutip Medcom.idSabtu, 5 Februari 2022.




Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pengurus tempat ibadah juga diminta menyediakan sarana pendukung prokes. Seperti alat pengukur suhu tubuh, tempat cuci tangan, dan cadangan masker medis.

“Melarang jemaah dengan kondisi tidak sehat mengikuti pelaksanaan kegiatan peribadatan/keagamaan,” tulis beleid itu.

Baca: Seluruh Pihak Didorong membantu Pesantren Terdampak Pandemi

Selanjutnya, pengurus tempat ibadah diimbau tidak mengedarkan kotak amal, infak, kolekte, atau dana punia ke jemaah. Lalu memastikan tidak ada sebelum dan sesudah kegiatan ibadah.

“Melakukan desinfeksi ruangan pelaksanaan kegiatan peribadatan secara rutin dan memiliki ventilasi udara yang baik,” bunyi SE tersebut.

Ketentuan berikutnya, yakni memastikan durasi ceramah atau khotbah paling lama 15 menit. Adapun khatib, penceramah, pendeta, pastur, atau rohaniwan harus menjadi teladan bagi jemaah.

“Memakai masker dan pelindung wajah atau faceshield dengan baik dan benar serta mengingatkan jemaah selalu menjaga kesehatan dan mematuhi prokes,” tulis SE itu.

Sementara itu, jamaah diminta menerapkan prokes dengan ketat. Kemudian memastikan kondisi tubuh sehat sebelum mengikuti ibadah secara langsung.

Seluruh jemaah juga diimbau menyediakan perlengkapan peribadatan sendiri seperti sajadah dan mukena. Lalu menghindari kontak fisik atau bersalaman. Masyarakat berusia 60 tahun ke atas dan ibu hamil atau menyarankan untuk beribadah di rumah.

(AGA)

.


Source link

Baca Juga   Tidak ada insentif bagi tenaga kesehatan saat kasus COVID-19 di Kalsel meningkat