Tiga Teknologi di Balik Maraknya Tren Self-Driving Enterprise

Illustrasi perusahaan self-driving

Illustrasi perusahaan self-driving

Penulis: Vincent Caldeira, Chief Technologist (FSI), Red Hat Asia

Maraknya adopsi teknologi-teknologi canggih, seperti automation dan Artificial Intelligence, oleh perusahaan saat ini diprediksi pada akhirnya akan menemukan sebuah endgame: self-driving enterprise. Apa saja kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi sebuah organisasi atau perusahaan yang mandiri?

Tak diragukan lagi bahwa pandemi telah mengubah cara kita bekerja, menjalani kehidupan, serta cara kita menggunakan layanan. Pada dua tahun terakhir, perusahaan harus beradaptasi dengan cepat atau kehilangan bisnisnya.

Oleh karena itu, semakin banyak perusahaan mèreapkan sistem kerja jarak jauh, atau merilis layanan alat digital yang ekstensif untuk menjangkau pelanggannya. Proses dan peningkatan infrastruktur yang sudah ada sejauh ini telah berjalan dengan tangkas dan reaktif.

Kami percaya bahwa saat ini kita berada di perempatan. Para CIO menyadari bahwa untuk bertahan dan berkembang di era baru ini, mereka harus memikirkan bagaimana perusahaan berevolusi dan memanfaatkan data, teknologi, serta proses secara strategi, agar dapat memberikan nilai pelanggan dengan lebih mandiri (swasembada), otonom dan skalabel.

Dibutuhkan banyak kemampuan untuk mendukung ke arah perusahaan yang ‘mengemudi sendiri’, namun ada tiga tren fundamental yang patut dipertimbangkan dalam merencanakan transisi yang sukses.

Pertama, megatren data gravity akan mengakselerasikan musik ke arsitektur data-centric yang terdistribusi dan menawarkan pemindahan data ke edge.

Ketika interaksi yang dimungkinkan oleh teknologi digital menjadi satu-satunya teknologi baru, didukung teknologi-teknologi baru seperti 5G dan perangkat IoT, perusahaan tidak hanya menghasilkan lebih banyak data, tapi data ini paling banyak dihasilkan oleh sistem yang sensitif terhadap latensi di luar pusat data atau data pusat. Selain itu, kemajuan dalam analitik dan machine learning memungkinkan perusahaan untuk membenamkan workflow intelligence ke dalam solusi digital mereka, yang juga memicu produksi lebih banyak data melalui pengayaan, agregasi dan integrasi data.

Baca Juga   Mengungkapkan! Virus Omicron dapat bertahan lebih dari 21 jam di kulit

Melihat tren ini, Gartner memperkirakan bahwa saat ini perusahaan hanya menghasilkan dan memroses 10% dari data mereka di luar fasilitas yang tersentralisasi seperti itu. Namun diprediksi pula bahwa persentase itu akan naik hingga 75 persen sampai tahun 2025[1].

Hal ini berarti, pemindahan data akan semakin sulit dan mahal. Arus data mengalir berbalik dan meragukan serta penyimpanan data kini terjadi di edge.

KONTEN YANG DIPROMOSI


Video Pilihan

.


Source link