Indeks Literasi Digital Masyarakat Meningkat

Penetrasi internet dan percepatan adopsi digital di kalangan masyarakat Indonesia tumbuh secara masif. Untuk menyediakan ekosistem digital yang aman dan bermanfaat, keterampilan digital masyarakat harus ditingkatkan.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menjalankan program khusus untuk meningkatkan keterampilan digital masyarakat, yaitu Gerakan Nasional Literasi Digital. Program ini harus mampu menyasar khalayak seluas-luasnya.

Pemerintah memiliki ambisi agar gerakan literasi digital nasional dapat berjalan tepat sasaran. Oleh karena itu, Kominfo bekerjasama dengan Katadata Insight Center (KIC) untuk memetakan kompetensi digital masyarakat. Hal itu dicapai melalui survei status literasi digital dan pengukurannya dalam Indeks Literasi Digital Indonesia, yang akan berlangsung pada 4 hingga 24 Oktober 2021 di 34 provinsi.

Hasil survei menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia tahun lalu berada pada level sedang, dengan skor 3,49 pada skala 1 hingga 5. Pemerintah juga mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang pola penggunaan teknologi dan media digital di masyarakat. . Bahkan, kemampuan masyarakat untuk mengenali hoax (informasi palsu) juga dipetakan.

“Kami ingin terus mengakselerasi dan memantau tingkat literasi digital masyarakat, mengikuti perkembangan teknologi digital yang semakin pesat dan strategis bagi kehidupan masyarakat Indonesia saat ini,” kata CEO Aplikasi Informasi dan Komunikasi Semuel Abrijani Pangerapan dalam sebuah kementerian. Jumpa pers.

Studi Kominfo dan KIC juga menunjukkan bahwa pria yang berusia muda, berpendidikan tinggi dan tinggal di perkotaan cenderung memiliki indeks literasi digital di atas rata-rata nasional. Fakta lain, dari 34 provinsi di tanah air, Yogyakarta memiliki indeks tertinggi dengan skor 3,71. Sedangkan provinsi dengan nilai indeks terendah adalah Maluku Utara (3,18).

Perilaku masyarakat dalam mengakses internet juga tercermin dalam survei yang digagas Kominfo dan KIC. Diketahui, orang dapat mengakses internet di mana saja berkat ponsel pintar. Biasanya, aktivitas akses Internet intens antara pukul 7 pagi hingga 10 pagi dan antara pukul 7 malam hingga 9 malam. Penggunaan internet terutama untuk berkomunikasi melalui pesan singkat, menggunakan media sosial dan mencari informasi.

Baca Juga   Platform Teknologi Pendidikan Zenius Memenangkan Suara Populer di GESAwards 2021

Mulya Amri selaku panelis ahli KIC dalam survei kondisi literasi digital di Indonesia tahun 2021 menjelaskan, masyarakat paling banyak mendapatkan informasi dari media sosial (Whatsapp dan Facebook). “Pada saat yang sama, jejaring sosial Facebook dianggap sebagai penyedia berita palsu atau hoaks yang paling sering,” katanya.

Riset Indeks Literasi Digital 2021 didasarkan pada empat pilar, yaitu keterampilan digital (kompetensi Digital), etika digital (etika digital), keamanan digital (keamanan digital), serta literasi digital (digital). Skor indeks pada pilar literasi digital tertinggi (3,90), sedangkan terendah adalah keamanan digital (3,10).

Mulya Amri juga mencontohkan antara tahun 2020 dan 2021 indeks naik tipis dari 3,46 menjadi 3,49. “Peningkatan kecakapan digital dan literasi digital, serta penurunan etika digital dan keamanan digital,” tambahnya.

Literasi digital menjadi isu penting untuk disoroti mengingat perkembangan digitalisasi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi pernah mengatakan bahwa ekonomi digital Indonesia pada tahun 2021 sebesar Rp 632 triliun, diperkirakan meningkat delapan kali lipat pada tahun 2030.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi digital, penetrasi pengguna internet di Indonesia juga semakin meningkat. Menurut laporan HootSuite and We Are Social bertajuk “Digital 2021”, pengguna internet di Tanah Air mencapai 202,6 juta orang pada awal tahun 2021, jumlah ini meningkat 15,5% dibandingkan awal tahun sebelumnya.

Di sisi lain, pandemi Covid-19 yang melanda sejak tahun 2020 juga mendorong penggunaan internet dan mempercepat adopsi digital dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas seperti belajar di rumah, bekerja dari rumah, belanja atau cek kesehatan semakin banyak dilakukan melalui aplikasi digital.

Tentu saja, pemerintah juga mendorong masyarakat untuk beradaptasi dengan bantuan aplikasi digital. Salah satunya adalah program #BanggaBuatanIndonesia yang mendorong UMKM menjadi digital, dan mulai menjual menggunakan Peron berani.

Baca Juga   Saham teknologi stagnan dan diperkirakan tidak akan naik setinggi tahun lalu

.


Source link