Dianggap Berpotensi Bahayakan Kesehatan, Permen LHK No.11 Agar Dicabut

JAKARTA, investor.id – Pemerintah diminta untuk merevisi kembali Permen LHK No 11 Tahun 2021 Tentang Baku Mutu Emisi Pembakaran Dalam. Hal ini disebabkan adanya kenaikan Nitrogen Oksida (NOx) untuk pembangkit listrik tenaga diesel dalam permen tersebut jika dibandingkan dengan ketentuan sebelumnya yakni Permen LHK No 15 Tahun 2019.

“Terjadi peningkatan kadar Nitrogen Oxide (NOx) yang cukup besar jika dibandingkan dalam peraturan sebelumnya. Permen LHK No 15/2019 mengatur kebijakan untuk pembangkit listrik tenaga disel dengan kapasitas di bawah 3 MW kadar baku mutu NOx adalah sebesar 1400 mg/Nm3 @5% O2 dan pembangkit diesel dengan kapasitas di atas 3 MW NO besar bakuada mg Nm3 @5% O2.” urai Mamit Setiawan, Direktur Executive Energy Watch di Jakarta, Senin (7/2).

Sedangkan, kata Mamit, dalam Permen LHK No 11/2021 kebijakan tersebut diubah yakni untuk pembangkit diesel dengan kapasitas di atas 1000 KW Kadar baku mutu Nitrogen Oxide (NOx) adalah sebesar 2300 mg/Nm3 @15% O2.

“Jika kita kalkulasi dengan menggunakan 5% O2 sesuai dengan permen sebelumnya maka kadar NOx menjadi 6133 mg/Nm3 @5% O2. Jika kita bandingkan, adanya peningkatan baku mutu emisi NOx yang sangat besar. Hal ini jelas membahayakan bagi kesehatan lingkungan di daerah yang terdapat pembangkit listrik diesel tersebut,” jelas Mamit.

Disampaikan berdasarkan bahwa penelitian yang dilakukan adanya peningkatan kadar NOx yang tinggi dapat menggangu fungsi paru dan pernapasan pada manusia dan juga hewan. Yang mana jika berlangsung dalam jangka panjang dan kadar NOx terus meningkat dapat menimbulkan kematian. Di Eropa, NOx (termasuk Nitrogen dioksida) karena penyumbang 14% kematian polusi udara.

Bagi tumbuhan, kadar NOx yang tinggi akan menyebabkan tumbuhan tidak dapat berproduksi seperti yang diharapkan atau bahkan tumbuhan bisa mengalami kematian. Selain itu, kadar NOx yang tinggi akan menyebabkan terjadinya hujan asam sehingga dapat mengakibatkan pelapukan bebatuan dan pengkaratan logam.

Baca Juga   Rejang Lebong terima 33.000 kuota jaminan kesehatan

Karena adanya peningkatan kadar NOx tersebut, hal tersebut diikuti dengan kenaikan kadar total solar dimana pada tahun 2019, solar yang dihasilkan hanya 120 mg/Nm3 @5% O2 sedangkan tahunkan 2021 jika kita hituna ma denpat dengan total2 diesel tertentu sebesar 240 mg/Nm3 @5% O2. Kenaikan yang mencapai 100% dibandingkan dengan peraturan yang dibuat tahun 2019. Kenaikan ini termasuk akan berdampak terhadap lingkungan manusia, hewan da tumbuhan sebagaimana saya ungkapkan di atas,” imbuh dia.

Mengingat begitu bnya Nitrogen Oxide (NOx) ini, maka Mamit meminta agar Menteri Lingungan Hidup dan merevisi kembali Permen LHK No 11 Tahun 2021 demi kepentingan bersama dan sesuai dengan cita-cita Joko Widodo Presiden.

“Permen tersebut sudah selayaknya dicabut dan direvisi kembali. Terlalu banyak yang dikorbankan terutama kesehatan masyarakat jika Permen LHK tersebut tetap beroperasi. dan kesehatan utama dari kondisi lingkungan adlah yang utama. Jangan hanya karena kepentingan tertentu, maka batas baku mutu untuk pembangkitan diesel dinaikan secara signifikan dan masyarakat dikorbankan, “tegasnya..

Diketahui, Pemerintah sesuai dengan komitmen yang tertuang dalam Paris Aggrement atau COP 21 pada Desember 2015 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 39% dengan kemampuan sendiri dan 41% dengan bantuan internasyang.

Hal ini kembali dipertegas oleh Presiden Jokowi dalam pertemuan COP 26 pada November 2021, dimana pemerintah berkomitemen untuk mencapai Emisi Nol Bersih (NZE) pada tahun 2060.

Editor: Euis Rita Hartati (euis_somad@yahoo.com)

.


Source link