Kedisiplinan Warga Garis Prokes Kurangi Risiko Tenaga Kesehatan Terpapar Covid-19

Pekerja memadati gerbong kereta <i>jalur komuter </i>Tanah Abang-Rangkasbitung saat jam pulang kantor, Senin (15/2/2021).  Ini menjadi potret problematis dalam penerapan protokol kesehatan (prokes) di sarana angkutan umum perkotaan di Jabodetabek sebagai upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19. ” height=”576″ loading=”lazy” sizes=”(max-width:1280px) 1280px, (max-width:720px) 720px, (max-width:1024px) 1024px, (max-width:676px) 676px, (max-width:150px) 150px, (max-width:300px) 300px” src=”https://assetd.kompas.id/Q9b6KDZoSrLihFzQvnUZPzGTFqg=/1024×576/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/03/15/8c524abc-b20e-4220-bd0b-ebdf7c47065c_jpg.jpg” srcset=”https://assetd.kompas.id/WVbqDjc3HckQ-MR5TvdN2_PU_JU=/1280×720/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/03/15/8c524abc-b20e-4220-bd0b-ebdf7c47065c_jpg.jpg 1280w, https://assetd.kompas.id/yNp3WcjSilomrI6VoStEglblpok=/720×405/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/03/15/8c524abc-b20e-4220-bd0b-ebdf7c47065c_jpg.jpg 720w, https://assetd.kompas.id/Q9b6KDZoSrLihFzQvnUZPzGTFqg=/1024×576/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/03/15/8c524abc-b20e-4220-bd0b-ebdf7c47065c_jpg.jpg 1024w, https://assetd.kompas.id/PodXsBmyhz3YTPbFfgPZttohwpU=/676×380/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/03/15/8c524abc-b20e-4220-bd0b-ebdf7c47065c_jpg.jpg 676w, https://assetd.kompas.id/cUWJRHpJwy-yzfvRLUwku1bqwUQ=/150×150/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/03/15/8c524abc-b20e-4220-bd0b-ebdf7c47065c_jpg.jpg 150w, https://assetd.kompas.id/7hMDd5H2AOEJPzm_NcdXEy9WcK0=/300×169/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/03/15/8c524abc-b20e-4220-bd0b-ebdf7c47065c_jpg.jpg 300w” width=”1024″ data-v-5bdccfde=””/><figcaption class=Kompas/Wawan H Prabowo (WAK)

Pekerja memadati gerbong kereta jalur komuter Tanah Abang-Rangkasbitung saat jam pulang kantor, Senin (15/2/2021). Ini menjadi potret problematis dalam penerapan protokol kesehatan (prokes) di sarana angkutan umum perkotaan di Jabodetabek sebagai upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19.

JAKARTA, KOMPAS — Kedisiplinan warga menjalankan protokol kesehatan menjadi faktor krusial menghadapi peristiwa Covid-19. Kedisiplinan itu efektif menekan kecepatan penyaluran sekaligus membantu mengurangi tenaga kesehatan terpapar Covid-19.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin) Prof Syafri Kamsul Arif berharap, masyarakat secara optimal menjalankan program dan mengikuti vaksinasi. Sebab, varian Omicron yang menyebar saat ini telah menyebabkan peningkatan kasus Covid-19, termasuk yang bergejala sedang hingga berat pada pasien dengan komorbiditas atau penyakit penyerta.

“Semoga tidak banyak pasien yang bergejala berat dan kritis karena akan berdampak pada tingkat kematian dan kematian. Apalagi, jika keterisian ICU meningkat, juga berisiko mengenai (menulari) nakes,” ujarnya dalam peluncuran buku Pedoman Tata Laksana Covid-19 Edisi 4 yang digelar Daring, Rabu (9/2/2022).

Buku tersebut diharapkan menjadi pedoman bersama sekaligus membantu tenaga kesehatan dalam melayani dan merawat pasien Covid-19. Buku 165 halaman itu disusun oleh lima organisasi profesi medis, yaitu Perdatin, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papkatan), AI dan.

Baca juga: Omicron Tiba, Tenaga Kesehatan Jangan Tumbang

Pegawai Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol Jawa Barat mengikuti tes usap di Gelanggang Olahraga Saparua, Kota Bandung, Kamis (10/9/2020).  Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar menargetkan 105.000 tes usap dalam dua pekan ke depan.
KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA

Pegawai Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol Jawa Barat mengikuti tes usap di Gelanggang Olahraga Saparua, Kota Bandung, Kamis (10/9/2020). Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar menargetkan 105.000 tes usap dalam dua pekan ke depan.

Syafri mengimbau masyarakat untuk mengoptimalkan pencegahan dan deteksi dini covid-19 dengan mengurangi mobilitas dan proaktif memeriksa diri saat mengalami gejala covid-19.

Baca Juga   Benarkah air dingin berbahaya bagi kesehatan? semua halaman

“Jika pasien bergejala berat dan kritis menurun, akan memberi kesempatan untuk mengobati pasien secara optimal,” katanya.

Ketua Umum Perki Isman Firdaus mengatakan, peristiwa yang terjadi saat ini dapat dikatakan sebagai gelombang ketiga penularan Covid-19. Meskipun fatalitasnya tidak terlalu tinggi, varian Omikron lebih menular sehingga penyebarannya lebih cepat.

“Jadi, tetap gunakan masker, hindari berkerumun, dan jaga jarak. Optimalkan vaksinasi karena terbukti ampuh mengurangi perburukan,” ujarnya.

Baca juga: Lonjakan Kasus Covid-19 Tak Terbendung

Meskipun banyak kasus yang muncul tanpa gejala dan bergejala ringan, Isman mengingatkan Omicron bisa memicu perburukan jika menginfeksi orang dengan penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, kelompok ini harus memproteksi diri dengan protokol kesehatan ketat agar tidak tertular Covid-19.

“Kematian pada pasien Covid-19 yang disertai penyakit jantung sering dilaporkan perburukannya karena memang akibat keparahan penyakit jantungnya sendiri,” jelasnya.

Kasus Covid-19 di Tanah Air terus meningkat sejak minggu ketiga Januari 2022. Berdasarkan data Satuan Tugas Covid-19, terdapat penambahan 46,843 kasus pada Rabu. Jumlah itu naik hampir 10.000 kasus dibandingkan sehari-hari sebelumnya.

Sementara Ketua Umum Papdi Sally Aman Nasution menuturkan, varian Omicron tetap harus diwaspadai meskipun gejala klinisnya tidak seberat varian Delta. Oleh karena itu, tata laksana bagi tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk memaksimalkan perawatan pasien.

https://assetd.kompas.id/DI4Wfc0ql4Lm9iWPl1LAlZe2R4U=/1024x2702/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/01/09/20220109-H01-GKT-Tren-Kasus-Covid-19-Omicron -mumed_1641743197_png.png

Jadi, tetap gunakan masker, hindari berkerumun, dan jaga jarak. Optimalkan vaksinasi karena terbukti ampuh mengurangi perburukan.

Sally menyebutkan, buku Pedoman Tata Laksana Covid-19 edisi 4 tersebut disusun berdasarkan data dan penelitian terbaru. Hal ini membuat beberapa obat dan terapi yang masuk dalam tata laksana sebelumnya kini sudah tidak digunakan lagi.

“Seperti terapi plasma konvalesen, antivirusoseltamivir, antibiotikaazitromisin, klorokuin, dan ivermectin tidak kami masukkan lagi karena memang bukti ilmiahnya,” katanya.

Baca Juga   Sebaran Tingkat Positif Covid-19 Tenaga Kesehatan di Jakarta Lebih dari 30 Persen

Buku tersebut juga memuat tata cara pemberian antivirus terhadap pasien bergejala yang sedang membutuhkan terapi farmakologis. Salah satunya, antivirus remdesivir. Jika tidak tersedia, berikan antivirus yang disesuaikan dengan ketersediaan obat di fasilitas kesehatan masing-masing dengan pilihan favipiravir, molnupiravir, dan nirmatrelvir/ritonavir.

Karyawan PT Amarox Pharma Global contoh obat antivirus Covid-19, molnupiravir, di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jumat (14/1/2022).
KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA

Karyawan PT Amarox Pharma Global contoh obat antivirus Covid-19, molnupiravir, di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jumat (14/1/2022).

Baca juga: Petakan Kendala Isolasi Mandiri Sebelum Masuki Puncak Varian Omicron

Ketua Umum PDPI Agus Dwi Susanto mengatakan, kasus Covid-19 tanpa gejala dan gejala yang cukup ringan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah dan tempat yang tidak tergantung pada diri sendiri. Tenaga kesehatan akan memberikan layanan konsultasi dan obat-obatan sesuai gejala gejalanya.

“Untuk pasien dengan komorbiditas yang tidak bisa dirawat inap di fasilitas kesehatan. Begitu juga dengan yang bergejala sedang, berat, dan kritis,” ujarnya.

Adapun Ketua Umum IDAI Piprim Basarah Yanuarso menyarankan orangtua tidak membawa anaknya ke tempat keramaian, mal, dan bioskop di tengah peristiwa Covid-19 saat ini. Selain itu, orangtua perlu mendidik anak agar cakap menjalankan prokes.

Situasi keramaian pengunjung di samping Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (11/11/2021).  Meskipun kasus Covid-19 di Bandung menurun, tanpa menerapkan protokol kesehatan dengan kemungkinan kejadian penyakit.
TATANG MULYANA SINAGA

Situasi keramaian pengunjung di samping Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (11/11/2021). Meskipun kasus Covid-19 di Bandung menurun, tanpa menerapkan protokol kesehatan dengan kemungkinan kejadian penyakit.

“Cegah anak menjadi penderita komorbiditas akibat gaya hidup yang salah. Banyak laporan anak menjadi obesitas pada saat pandemi. Padahal, obesitas merupakan komorbiditas yang bisa membuat Covid-19 menjadi fatal,” jelasnya.

Baca juga: Jangan Baikan Risiko Covid-19 pada Anak

Hingga Rabu pukul 16.30, tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit Covid-19 secara nasional mencapai 26,3 persen. Kementerian Kesehatan memperkuat fasilitas layanan kesehatan agar lebih optimal menghadapi kenaikan kasus-kasus yang diperkirakan terus terjadi 2-3 minggu ke depan.

Baca Juga   96 Persen Warga Kota Kediri Masuk Program Jaminan Kesehatan, sebagian dari Dana Bagi Hasil Cukai

“Saat ini layanan kesehatan nasional masih terkendali jika dibandingkan dengan kasus konfirmasi harian. Ini membuktikan sejauh mana strategi kita masih berjalan efektif dan efisien dalam menangani pasien. Kami terus mengimbau masyarakat yang dirawat di rumah sakit hanya untuk pasien yang bergejala sedang hingga berat atau kritis atau yang memiliki komorbiditas dan belum divaksin,” ujar Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kediamenkes.


Source link