Sepertiga Warga Lansia Alami Gangguan Kesehatan Baru Setelah Terinfeksi Covid-19

Aktivitas tenaga kesehatan setelah mengecek kesehatan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Darurat Stadion Patriot Candrabhaga di Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (10/2/2022).  Sebanyak 13 pasien Covid-19 yang dirawat untuk isolasi mandiri di stadion tersebut.  Sementara tersedia 49 tempat tidur dan bisa dimaksimalkan hingga 200 tempat tidur untuk menampung pasien Covid-19.
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Aktivitas tenaga kesehatan setelah mengecek kesehatan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Darurat Stadion Patriot Candrabhaga di Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (10/2/2022). Sebanyak 13 pasien Covid-19 yang dirawat untuk isolasi mandiri di stadion tersebut. Sementara tersedia 49 tempat tidur dan bisa dimaksimalkan hingga 200 tempat tidur untuk menampung pasien Covid-19.

JAKARTA, KOMPAS — Hampir sepertiga usia lanjut usia yang terinfeksi Covid-19 mengalami setidaknya satu kondisi kesehatan baru yang memerlukan perhatian medis dalam beberapa bulan setelah infeksi awal. Beban kesehatan baru setelah infeksi ini meliputi gagal napas, kelelahan, tekanan darah tinggi, dan kesehatan mental.

Temuan ini para peneliti dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard TH Chan dan Optum Global Advantage di jurnal BMJ pada Rabu (9/2/2022). Laporan dalam jurnal ini bisa diakses secara berani di www.bmj.com.

Dalam kajian ini, para peneliti menggunakan catatan asuransi kesehatan untuk Mengidentifikasi 133.366 orang berusia 65 tahun atau lebih yang didiagnosis Covid-19 sebelum 1 April 2020.

Kelompok pembanding pertama dari tahun 2020 sebanyak 87.337, kelompok pembanding historis kedua sebanyak 88.070 dari tahun 2019, dan kelompok pembanding historis ketiga adalah mereka dengan penyakit pernapasan.

Para peneliti kemudian mencatat setiap kondisi persisten atau gejala yang baru muncul mulai 21 hari setelah diagnosis Covid-19 (periode akut) dan menghitung risiko yang dipicu oleh Covid-19 selama beberapa bulan, berdasarkanak lamin jeias, papa s ram kan kami rumah sakit karena Covid19.

Baca Juga: Lansia Terpapar Covid-19 Secepatnya Menjalani Isolasi Terpusat

Hasilnya menunjukkan bahwa antara individu yang didiagnosis dan Covid-19 pada tahun 2020, sebanyak 32 persen di antaranya mencari perawatan medis pada periode akut untuk satu atau lebih kondisi kesehatan baru. Jumlah ini 11 persen lebih tinggi daripada kelompok pembanding tahun 2020.

Baca Juga   6 Tanaman Herbal yang Baik Kesehatan Otak, Bantu Atasi Alzheimer!

Sementara itubandingkan dengan kelompok pembanding tahun 2020, pasien Covid-19 memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai kondisi kesehatan termasuk gagal napas dengan tambahan 7,55 per 100 orang, kelelahan dengan tambahan orangan 5,43 denbahan dar 100 per 100 orang, dan diagnosis kesehatan mental dengan tambahan 2,5 per 100 orang.

Temuan serupa juga terjadi pada kelompok pembanding tahun 2019. 18 per 100 jeruk.

Petugas vaksinator menyuntikkan vaksin Covid-19 dosis pertama ke warga lansia di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (24/2/2021).  Vaksinasi massal bagi warga lansia ini menyasar para penghuni rumah susun Tzu Chi.
Kompas/Priyombodo (PRI)

Petugas vaksinator menyuntikkan vaksin Covid-19 dosis pertama ke warga lansia di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (24/2/2021). Vaksinasi massal bagi warga lansia ini menyasar para penghuni rumah susun Tzu Chi.

sebagian besar individu yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 memiliki peningkatan risiko kesehatan yang nyata. Risiko beberapa kondisi juga meningkat pada laki-laki, ras kulit hitam, dan usia 75 tahun ke atas.

Sebagaimana dijelaskan para peneliti, studi ini bersifat observasional sehingga tidak dapat menentukan penyebab dari kondisi kesehatan baru yang muncul. Para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan, termasuk fakta bahwa beberapa orang yang diagnosis tidak benar-benar mewakili kondisi baru yang dipicu oleh infeksi Covid-19.

sebagian besar individu yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 memiliki peningkatan risiko kesehatan yang nyata. Risiko beberapa kondisi juga meningkat pada laki-laki, ras kulit hitam, dan usia 75 tahun ke atas.

Namun, para peneliti mengatakan bahwa dengan lebih dari 357 juta orang yang terinfeksi Covid-19 di dunia, jumlah orang yang selamat dengan gejala jangka panjang setelah akut akan terus bertambah.

Laporan penelitian ini juga menguatkan penelitian terkait dampak Covid-19 atau Covid panjang. Kajian tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Washington University di St. Urusan Louis dan Veteran Sistem Perawatan Kesehatan Louis dan di jurnal Obat Alami pada 7 Februari 2022 disebutkan, orang yang pernah terinfeksi Covid-19 memiliki 55 persen lebih tinggi untuk mengalami komplikasi yang berkepanjangan.

Baca Juga   Bantu Masyarakat, Satgas Kodim Yalimo Yonif RK 751 VJS Berikan Layanan Kesehatan : Okezone News

Baca Juga: Komplikasi Covid-19 Komplikasi Jantung Berkepanjangan

Komplikasi tersebut termasuk gangguan irama jantung jantung pembekuan darah penyakit arteri koroner serangan jantung gagal jantung atau bahkan kematian. Risiko komplikasi masalah jantung ini bahkan bisa dialami individu yang sebelumnya sehat dan yang mengalami infeksi Covid-19 ringan.

Dokter jantung di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Sunu Budhi Raharjo juga mengatakan, dirinya mengetahui beberapa kasus komplikasi penyakit jantung yang dialami mantan pasien Covid-19 di Indonesia.

Sunu, yang juga mendalami masalah disritmia atau detak jantung yang tidak normal, mengatakan, gejala Covid-19 yang berkepanjangan yang ditemukan adalah fibrilasi atrium (AF), yaitu gangguan irama jantung yang ditandai dengan jantung tidak beraturan dan cepat. Gangguan ini bisa dialami oleh pasien hingga dua tahun setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19.


Source link