Selaras G20, Kementan Kolaborasi Program Ketahanan Kesehatan Global

Sabtu, 12 Februari 2022 | 10:22 WIB

| Penulis:

Redaktor : Untung S

Jakarta, InfoPublik – Selaras dengan isu strategi pembahasan di presidensi G20 Indonesia 2022, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama dengan Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), melalui Emergency Center for Transboundary Animal Diseases (FAO ECTAD) dan Badan Pembangunan Internasional berkola AmerikaID AS melalui Program Ketahanan Kesehatan Global (Program Keamanan Kesehatan Global/GHSP)

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono menyampaikan, GHSP merupakan program kolaborasi lintas sektor, lintas disiplin, bahkan lintas sangat penting, mengingat wabah penyakit dapat bersifat lintas batas (tanpa batas), dimana tidak hanya satu negara saja yang terkena dampak, tetapi dapat dirasakan di tingkat regional, atau bahkan global.

“Program ini selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2020-2024 dan menjadi isu penting dari Presidensi G20 Indonesia 2022, yang ingin memulihkan pemulihan global yang lebih kuat pasca pandemi” ujar Kasuandi pada Pertem Komite Pengarah Proyek (PSC) Program Keamanan Kesehatan Global (GHSP) di Jakarta, Jumat (11/2/2022)

Pertemuan forum PSC adala pertemuan pertama dan merupakan salah satu upaya implementasi proyek kolaborasi kolaborasi multisektor dan pengembangan kebijakan khususnya dalam transformasi sistem pangan berkelanjutan, serta ketahanan global.

Saat ini dunia perlu meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi penyakit penyakit menular baru atau yang muncul kembali dengan kerja sama dan kolaborasi antara sektor manusia, hewan, dan lingkunka denka den atau satu kesehatan.

“Dunia akan pulih kembali, serta menjadi lebih kuat, jika kita melakukannya bersama, yakni pulih bersama dan pulih lebih kuat”, kasdi. “Kami berharap agar sinergi dan harmonisasi program GHSP dengan proyek-proyek lainnya di Kementerian Pertanian dapat berjalan dengan baik”, imbuhnya.

Baca Juga   5 Fakta MSG, Benarkah Bikin Bodoh dan Buruk untuk Kesehatan?

Sementara itu, salah satu ketua dari Steering Committee, Rajendra Aryal, Kepala Perwakilan, FAO di Indonesia dan Timor Leste, menegaskan kembali pentingnya arsitektur kesehatan global dalam agenda G20. “FAO telah bekerja sangat erat dengan pemerintah Indonesia dan selalu siap memberikan dukungan teknis yang diperlukan untuk pendekatan One Health”, ungkap Rajendra.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Nasrullah menjelaskan, Indonesia sebagai salah satu inisiator yang berperan penting dalam GHSA. Selain menjadi Ketua Troika GHSA pada 2016, Indonesia juga menjadi lead country untuk program pencegahan zoonosis dan kontribusi aktif dalam berbagai bidang seperti pendeteksian dan pemantauan penyakit, resistensi antimikroba, serta aksi multi sektoral.

Proyek GHSP akan berjalan hingga 2024 yang berfokus pada bantuan teknis di empat ruang lingkup utama, yakni a) kolaborasi multisektor dan pengembangan kebijakan; b) Surveilans, laboratorium, dan bertanya-tanya; c) Kesiapsiagaan dan respons penyakit dengan One Health, dan d) Kesehatan unggas nasional dan pengendalian resistensi antimikroba.

Ia menambahkan, secara khusus GHSP bertujuan untuk meningkatkan sumberdaya, kapasitas, dan keahlian pemerintah dalam kesiapsiagaan, pencegahan, pendeteksian, dan respons terhadap zoonosis danbaensi antimikro peninsula Satu Kesehatan melalui pendekatan terhadap para pemangku kepentingan termasuk pihak swasta.

“Dukungan terhadap implementasi proyek GHSP sangat dibutuhkan untuk membangun sistem kesehatan dan pertanian pangan yang tangguh bagi masyarakat,” pungkasnya.

Foto: Istimewa


Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau mengganti konten ini dengan sumber . sumber InfoPublik.id

.


Source link