Startup Bananas Andalkan Konsep Quick Commerce

Bisnis.comJAKARTA – Sebagai pendatang baru di sektor e-commerce dan layanan kebutuhan sehari-hari, Bananas percaya diri dapat bersaing dengan menggunakan konsep quick commerce.

Founder dan CEO Bananas Mario Gaw menyebut, selama ini belum ada e-commerce yang dapat melakukan layanan instan secepat perusahaannya. Bananas membantu mengantarkan barang pesanan pelanggan selama 10 menit.

“Kami fokus di pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan rumah tangga, terutama bahan segar seperti sayur, buah, daging, dan sejenisnya,” ujar Mario, Kamis (10/2/2022).

Dia menjelaskan, aplikasi Bananas baru beroperasi selama kurang lebih 2 minggu dan saat tersedia di Jakarta dan sekitarnya. Untuk sementara, Bananas memiliki 4 jaringan toko.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar kalangan rumah tangga, Bananas berencana untuk dapat beroperasi selama 24 jam sehari. Adapun saat ini hanya beroperasi dari jam 08.00-00.00 WIB.

Walaupun terhitung sangat baru, Bananas memiliki dana sebesar US$1,5 Juta dari pendanaan yang diberikan oleh East Ventures. Dengan pendaan tersebut, Bananas menargetkan pembangunan 30-50 jaringan toko untuk Jakarta dan sekitarnya dengan 1000-1500 Stock Keeping Unit (SKU).

“Tahun ini kamu menargetkan di Jakarta, lalu bergerak di kota-kota tier 1 lainnya dan pasar ki adalah kelas menengah ke atas,” ujarnya.

Mario mengatakan, perusahaannya memang menyasar generasi yang relative muda dan sudah terbiasa dengan teknologi digital. Saat ini Pisang menargetkan konsumen utama dari kelas usia 25-45 tahun.

Terkait ongkos kirim (ongkir), Mario mengatakan, saat ini menengah atas di kota-kota besar tidak terlalu mementingkan ongkir, tetapi fokus pada kemudahan yang dapat diperoleh. “Namun untuk belanja barang dengan total harga di atas Rp200.000 akan mendapat gratis ongkir dan untuk awalan ini, semua layanan ongkir kami gratiskan,” ujarnya.

Baca Juga   Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

Menurutnya, karena menyasar kelas menengah ke atas, perusahaannya fokus pada dua hal, yaitu kualitas barang yamg disediakan dan kecepatan layanan.

Mario menjelaskan, perusahaannya tidak takut bersaing dengan e-commerce dan jaringan scart modern yang saat ini juga sudah menyediakan aplikasi digital.

“Dalam dunia digital kita setara, aplikasi mudah dibuat, tetapi mengelola serta mengembangkannya tidak mudah, dibutukan pengalaman, dan kami unggul di sana,” ujarnya.

Terkait armada pengantaran barang, Bananas tidak bekerja sama dengan entitas lain. Para pekerja, termasuk pengemudi, dikelola langsung oleh Bananas.

“Kita pakai motor roda dua untuk pengantaran, dan jarak maksimal pemesanan adalah 3 Kilometer dari jaringan toko atau hub kami, sehingga dapat dilayani dengan cepat,” ujarnya.

Sebelumnya dalam rilis yang dikeluarian East Ventures, Founder dan CTO Bananas Kristian Sinaulan menyebut, perusahaannya Akan turut mendukung dalam pasar e-groceries di Indonesia, yang diperkirakan akan mencapai US$170 juta pada 2022 ini.

Usaha Bananas menggaet anak muda terbilang tepat, dari hasil Sensus Penduduk 2020, Badan Pusat Statistik mencatat, mayoritas penduduk Indonesia didominasi oleh generasi Z (yang lahir pada kurun 1997–2012) dan generasi milenial (lahir pada kurun 1981–1996).

Adapun proporsi generasi Z sebanyak 27,94 persen dari total populasi dan generasi generasi sebanyak 25,87 persen. sebagian besar dari dua generasi ini masuk dalam kategori usia produktif yang dapat menjadi peluang peluang pertumbuhan ekonomi.

Terkait pengguna digital, menurut laporan yang dirilis We Are Social pada 2021 lalu, di Indonesia terdapat sekitar 202,6 juta pengguna internet atau sekitar 73,7 persen dari total populasi (274,9 juta).

Namun, ada tantangan besar yang harus dihadapi oleh Bananas. Sebelumnya menurut survei yang diterbitkan Institute for Business Value IBM (NYSE:IBM) pada, Rabu (2/2/2022), dari 19.000 responden sekitar 72 persen masih menggunakan metode belanja secara langsung (ke toko) untuk memenuhi kebutuhan harian.

Baca Juga   Program Penerimaan Mahasiswa Baru Vokasi ITS Kembali Terpisah

Adapun, 27 persen responden mengaku menggunakan metode belanja campuran (digital dan ke toko langsung). Para responden yang menggunakan metode campuran merupakan generasi muda (Gen z).

Alasan teratas responden memilih untuk mengunjungi toko adalah dapat melihat dan merasakan produk sebelum (50 persen), memilih dan menentukan produk mereka sendiri (47 persen), serta bisa langsung mendapatkan produk yang diinginkan (43 persen), meskipun barang yang dicari pembeli di toko fisik bervariasi menurut kategori produk.

Departemen Agrikultur AS “Retail Foods” untuk Indonesia dalam laporannya menyebut, penjualan kebutuhan sehari-hari di Indonesia pada 2020 mencapai US$97 miliar. Pasar atau warung tradisional menguasai 79% dan sisanya dikuasai oleh scart modern.

Riset yang dilakukan Fitch Ratings terkait industri grosir belanja pada September 2021 menyebut, dalam 3 tahun ke depan, kegiatan berbelanja secara langsung atau pergi berbelanja akan mendominasi.

Menurut riset Kemenkominfo bersama Katadata Insight Center pada Oktober 2021, dari 10.000 responden, hanya 2,8 persen yang mengaku sangat sering berbelanja secara berani melalui aplikasi e-commerce.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

Konten Premium

Masuk/Daftar

.


Source link