Terbukti Efektif, Blended Learning Jadi Solusi Pendidikan Melalui Teknologi

Blended learning plus efektif untuk memaksimalkan proses pembelajaran berani atau hibrida.

Yohanes Endra

Rabu, 09 Maret 2022 | 18:25 WIB

matamata.com – Distorsi pada kehidupan secara sosioekonomi muncul karena adanya pandemi Covid-19. Untuk melindungi peserta didik dan pengajar, di sektor pendidikan dilakukan penghentian pembelajaran tatap muka sejak Maret 2020, dan baru diperbolehkan dilaksanakan kembali sepertiga akhir tahun 2021, tetap dengan.

Saat memutuskan harus melaksanakan dari rumah, muncul pembelajaran adanya kehilangan pembelajaran secara masif, yang dapat menyebabkan terjadinya suatu kesenjangan generasi. Kekhawatiran ini pula yang dirasakan para insan pendidikan SMA Trimurti.

Langkah darurat yang dilakukan Trimurti Senior High School dalam melaksanakan pembelajaran di awal masa pandemi adalah mengambil moda daring, dengan berusaha memanfaatkan fasilitas sekolah yang sudah ada, apa adanya, sambil mempersiapkan pelatihan guru dan pengadaan fasilitas kilat.

SMA Trimurti sudah memiliki aplikasi ujian online dan akses internet sekolah, yang belum kami gunakan secara maksimal, antara lain aplikasi Learning Management System (LMS) dan aplikasi Video Conference (VC). Selama 2 minggu pertama pembelajaran dari rumah, SMA Trimurti melaksanakan penugasan mandiri melalui aplikasi ujian online, yang dipandu wali kelas lewat media Whatsapp.

Guru dan tenaga pendukung sekolah berjibaku untuk berlatih, mempersiapkan, dan mengenalkan ke siswa terkait aplikasi LMS dan VC yang dipilih dan dipakai di sekolah. Setelah 2 minggu berlalu, pembelajaran kemudian diorganisasikan melalui LMS, didukung aplikasi VC dan ujian berani.

Sudah berhasil menggunakan aplikasi pendukung untuk melaksanakan pembelajaran dengan berani, ternyata belum menjamin proses belajar berjalan dengan baik, dan learning loss dapat dihindari. Dalam proses pembelajaran, ditemukan bahwa keterlibatan siswa cukup rendah dan banyak aktivitas belajar yang terlewatkan.

Baca Juga   Berkat teknologi, pertanian modern dapat meningkatkan produktivitas

Hal ini terjadi karena siswa belajar di rumah yang jauh dari pantauan guru, begitu juga orang tua siswa yang ternyata tidak selalu bisa menyatukan karena bekerja atau aktivitas lain.

Belum lagi beberapa siswa yang memiliki kesulitan akses internet dan/atau peralatan pembelajaran yang berani. Dari sisi guru, ditemukan bahwa mereka kesulitan untuk mengontrol belajar siswa karena hanya dapat berkomunikasi secara online.

Selain itu, guru juga kesulitan mendapatkan bahan lengkap tertentu yang dapat ditempatkan di LMS. Hal ini akhirnya memunculkan keluhan orang tua, yang mengakibatkan siswa tidak mendapatkan pembelajaran yang cukup dan tingkat kepuasan mereka terhadap sekolah pun menurun.

Menemui hambatan belajar pelik seperti itu, SMA Trimurti melakukan evaluasi diri. Masalah utamanya sebenarnya ada dalam pola pikir dalam melaksanakan pembelajaran berani.

Sebelumnya ada anggapan, guru adalah kontrol utama pembelajaran dan orang tua atau keluarga di rumah hanya sebagai pemantau. SMA Trimurti masih menganggap pembelajaran sebagai proses transfer materi sebanyak-banyaknya.

Akhirnya, perlu perubahan pola pikir dan merancang pembelajaran blended learning plus yang efektif untuk memaksimalkan proses pembelajaran berani atau hibrida, melakukan tatap muka terbatas bagi siswa yang kesulitan mengakses internet dan/atau peralatan pembelajaran berani.

Kembangkan Konsep Blended Learning Plus
Konsep blended learning plus pertama yang dikembangkan di SMA Trimurti adalah membangun sinergi antara sekolah, siswa, dan rumah. Di sini, dilakukan proses pelaporan kehadiran dan capaian belajar siswa secara rutin.

Setiap guru melakukan pendataan presensi dan hasil penugasan kecil untuk mengukur capaian belajar siswa dalam proses pembelajaran tersebut. Hasil pendataan ini dikumpulkan dan direkapitulasi oleh wali kelas, kemudian dilaporkan kepada orang tua melalui grup aplikasi chat online.

Baca Juga   Cuaca luar angkasa akan berdampak pada teknologi tinggi

Hal ini dilakukan setiap hari, sehingga orang tua dapat melihat perubahan capaian pembelajaran siswa. Ketika ketidakaktifan atau kesulitan belajar, wali kelas langsung melakukan konfirmasi ke orang tua untuk dicarikan solusi.

Konsep blended learning plus kedua adalah membangun pembelajaran yang esensial. Guru melakukan pemetaan materi pembelajaran yang esensial dan sampingan untuk siswa. Proses pembelajaran untuk penguasaan materi esensial dan materi sampingan yang digunakan sebagai pengayaan bagi siswa.

Konsep blended learning plus ketiga, membangun pembelajaran yang relevan, kaya, dan menarik. Pembelajaran mengambil tema topik dengan topik-topik di lingkungan sekitar siswa. Pembelajaran dibentuk dalam bentuk aktivitas, seperti membuat video, proyek, dan sebagainya.

Sekolah menjalin kerjasama dengan penyedia konten belajar interaktif terkemuka, yaitu “Ruangguru” untuk memberikan variasi sumber belajar. Sekolah menyediakan perangkat tatap muka yang memungkinkan guru bisa melakukan aktivitas mengajar lebih leluasa, seperti webcam wide angle, headset nirkabel, dan layar hijau.

Setelah mengembangkan dan melaksanakan blended learning plus, hasilnya sangat positif dalam proses pembelajaran berani yang kami. Saat ini, keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran berani mendekati 100%.

Orang tua banyak yang menyatakan rasa puas dengan proses belajar yang sudah dilakukan siswa. Ternyata, jumlah siswa SMA Trimurti yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) juga mengalami peningkatan.

Untuk pengembangan ke masa depan, SMA Trimurti akan konsisten meningkatkan kompetensi guru dengan pembekalan dan pengembangan menuju pembelajaran paradigma baru, meluaskan konsep blended learning plus ke proses Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT), serta menjajaki integrasi teknologi pendidikan masa depan, seperti Machine Learning dalam Augmented Reality/Virtual Reality (AR/VR).

.


Source link