Teknologi Weigh In Motion (WIM) di jalan tol

Surabaya, IDN Times – Hemanto (37) kaget. Truk yang dikendarainya dihentikan petugas pada tanggal 12 Februari lalu di salah satu rual tol Tol Surabaya-Gempol. Ia yang sedang melaju dari Sidoarjo ke Bekasi pun harus turun dari kabin kemudinya. Benar dugaan Hermanto, ia ditilang karena kelebihannya kelebihannya alias masuk dalam kategori Over Dimension Ovel Load (ODOL).

“Saya kena masalah nggayor (buka pintu belakang truk). Muatannya lebih dari bak. Bak saya 6 meter, barang yang saya bawa itu tiang panjangnya 7 meter. Otomatis gak cukup. Pintu bak buka yang belakang, tapi tidak melebihi dari pintu, kita bilangnya itu nggayor,” Jelas Hermanto.

Ia pun harus menima ‘surat cinta’ dari petugas. Pada 8 Maret lalu, Hermanto kemudian mengikuti sidang. Ia divonis bersalah dan harus membayar uang denda Rp105.000.

Cerita penindakan terhadap sopir seperti Hermanto sepertinya akan terus terjadi. PT Jasa Marga sedang disorot dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk memasang alat bernama Weigh In Motion (WIM) di jalan tol. WIM bekerja untuk mengukur muatan kendaraan tanpa perlu masuk ke Jembatan Timbang. Alat tersebut memiliki akurasi yang cukup tinggi dalam mendeteksi angkutan kendaraan. Tujuan pemasangan alat ini adalah untuk mengawasi muatan barang melalui metode timbangan.

Teknologi WIM, Mengusir ODOL, Merawat Jalan TolTimbang dalam Gerakan (WIM). Dokumentasi Jasa Marga

Teknologi ini juga dilengkapi dengan Televisi Sirkuit Tertutup (CCTV), atau pengintai. Ketika ada kendaraan melewati WIM, bukan hanya berat yang terdeteksi, tapi juga dimensi dari kendaraan tersebut. Selain itu juga akan terdeteksi fisik kendaaran dan plat nomor.

“Jadi, ketika kendaraan lewat di jembatan otomatis tersebut akan terdeteksi oleh WIM, itu akan terdeteksi berat muatannya. Ada alat di bawah jembatan untuk mengetahui berat tersebut,” kata General Manager PT Jasa Marga wilayah Tol Surabaya-Gempol, Hendri Taufik. Penerapan WIM di jalan tol ini sesuai dengan Surat Edaran (SE) Menteri Perhubungan (Menhub) Nomor 116 tentang Pengawasan Angkutan Barang dan Pelanggaran ODOL di Jalan Tol.

Teknologi WIM, Mengusir ODOL, Merawat Jalan TolTimbang dalam Gerakan (WIM). tnet4iot.com

Selain keamanan, Hendri mengakui bahwa keberadaan angkutan ODOL membuat badan jalan lebih cepat rusak. Ujung ujungnya, biaya perawatan jalan tol menjadi membengkak. “Misalkan (perbaikan dalam satu) periodik biasanya 4 tahun sekali karena sering rusak karena ODOL akhirnya setiap tahun,” ungkap Hendri. “Yang pasti karena ODOL ini biaya yang dikeluarkan oleh badan usaha ini sampai tiga kali lipat dari yang seharusnya.”

Baca Juga   Kulak-kulik Masa Depan Teknologi Keuangan di Indonesia

Secara konstruksi, kata dia, jalan tol hanya mampu menampung batas Muatan Sumbu Berat (MST) maksimal 10 ton. Sementara itu, kendaraan ODOL biasanya memiliki MST lebih dari 50 hingga 100 persen dari batas tersebut. “Ya jadi dua kali lipatnya, bahkan ada yang lebih banyak. Sebetulnya struktur jalan kita tidak dirancang untuk melayani seberat itu,” ujar Hendri.

Apalagi Jasa Marga mencatat ada 1,68 juta kendaraan kelebihan muatan yang melintas di tol selama tahun 2021. Angka ini merupakan 23,17 persen dari total 7,27 juta kendaraan yang melintas di jalan tol yang mereka kelola.

Jasa Marga pun ini telah memasang 7 unit WIM di jalan tol yang mereka kelola. Alat ini tersebar antara lain di tol Jogorawi, Jorr Seksi E, Jakarta -Tanggerang, Padaleunyi, Semarang Seksi ABC, Ngawi-Kertosono, serta Surabaya-Gempol. Di ruas jalan tol Surabaya-Gempol, alat ini berada di KM 754+, tepatnya di bawah jembatan.

“Nanti data dari WIM dan CCTV akan masuk ke monitor petugas. Sekarang masih sebagai penunjang kegiatan penindakan ODOL,” tulisnya.

Saat ini WIM hanya digunakan sebagai penunjang penindaakan ODOL di jalan tol yang dilakukan petugas. Dalam penerapannya, petugas melakukan operasi penindakan ODOL pada jarak 500 meter dari lokasi WIM diletakkan.

“Sementara hanya sebagai keluar. Misal ada kendaraan warna biru kelebihan muatan yang menangkap WIM, maka petugas di depan menindak itu, yang lain jalan,” tutur Hendri.

Baca Juga: Temui Masa Aksi Demo ODOL, Emil Tegaskan Sopir Tidak Ditindak

Teknologi WIM, Mengusir ODOL, Merawat Jalan TolPetugas pengamanan yang merekam kamera ETLE. IDN Times/ Bramanta Pamungkas

Nantinya, WIM akan ‘dikawinkan’ dengan sistem tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE). Masih dalam proses koordinasi dengan kepolisian, kata Hendri.

Baca Juga   Korlantas: Tilang Pakai Teknologi ETLE Hindarkan Konflik Polisi dengan Sopir di Jalan Tol

Rencana itu pun disambut baik oleh pihak kepolisian. Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jawa Timur, Kombes Pol Latif Usman mengatakan, integrasi WIM dan ETLE akan membuat penindakan lebih transparan dengan mengarahkan langsung dengan petugas lapangan. Surat tilang elektronik akan langsung dikirim ke alamat yang tertera dalam dish nomo kendaraan.

Latif menuturkan bahwa teknologi tersebut penting diterapkan karena kendaraan angkutan adalah penyumbang kecelakaan setelah roda dua. “Data kami di tahun 2021 kendaraan yang terlibat memang paling banyak sepeda motor. Kedua adalah angkutan barang yang banyak mengalami kecelakaan,” jelas Latif.

“Mulai sekarang tentu kita harus mempersiapkan diri untuk menjaga keselamatan, aturan ini dibuat untuk masalah kita bersama, mari kita utamakan keselamatan, ya memang perekonomian juga penting tapi yang paling penting keselamatan,” imbaunya.

Dosen Transportasi Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Dr Ir Machus pun mengapresiasi langkah ini. Menurut dia, cara kerja WIM adalah dengan menggunakan sensor yang diletakkan di jalan. Alat tersebut berupa yang bisa mendeteksi kendaraan saat melintasi jalan tersebut.

“WIM Itu untuk mengecek, lebih banyak bukan over dimension-nya tapi over load-nya, sebagai timbangan berat kendaraan pada saat tidak dihentikan atau kendaraan bergerak. Ada kendaraan yang termonitor dengan baik ketika kendaraan bergerak dengan lambat ada juga yang ditoleransi kecepatan menengah ada kecepatan tinggi tergantung kepekaan,” ujar Machus.

Menurut dia, WIM mutlak diperlukan. Sebab, kini semakin banyak kendaraan dengan ukuran yang tidak wajar. “Saya misalnya mau ke Malang lewat jalan tol, ini jalan relative baru tapi sering kali ada perbaikan, salah satunya banyak kendaraan ODOL operasi di situ,” imbuhnya.

Baca Juga: Tolak Aturan ODOL, Ratusan Sopir Truk Malang Raya Mogok




Source link

Baca Juga   Gus Jazil: Manfaatkan Kemajuan Teknologi 4.0 untuk Perbaikan Kualitas Hidup