Sidang 1st Energy Transitions Working Group (ETWG) G20 Tuntas, Sepakati Tiga Isu Utama

Bisnis.comJAKARTA- Sidang 1st Energy Transitions Working Group (ETWG) yang dibuka oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif telah usai pada Jumat, (25/03/2022). Selama, isu aksesibilitas energi, peningkatan teknologi energi bersih, dan peningkatan pembiayaan energi yang menjadi tiga pilar ETWG G20 Presidensi Indonesia disepakati secara aklamasi menjadi agenda ETWG G20 tahun ini.

Flesh ETWG Yudo Dwinanda Priaadi melaporkan komitmen bersama untuk mencapai Emisi Nol Bersih (NZE) sekaligus merealisasikan target tujuan pembangunan (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/SDGs) pada tahun 2030.

“Anggota G20 menyatakan pentingnya memiliki rencana bersama yang jelas dan untuk mencapai SDGs 2030. Untuk mencapai hal ini, kerjasama dan kemitraan teknologi sangat penting,” kata Yudo, Jumat (25/03/2022).

Anggota G20, sambung Yudo, memperkuat pentingnya keamanan dan ketahanan rantai pasok energi di tengah tantangan ketidakpastian pasar ekonomi global.

“Sangat penting bagi G20 untuk mengembalikan kondisi pasar yang lebih stabil serta memodernisasi tata kelola pasar energi untuk menjamin keamanan energi dan proses transisi energi,” jelasnya.

Transisi energi yang inklusif dan adil (hanya transisi) juga mendapat perhatian penuh selama sidang ETWG. Semua jenis teknologi dan bahan bakar penting untuk dipertimbangkan dalam mengakselerasi transisi energi sekaligus mempertimbangkan manfaat ekonomi.

Presidensi G20 juga berkomitmen dan mengkoordinasikan permasalahan aksesibilitas dan peningkatan teknologi.

“Ini akan membentu anggota G20 untuk memprioritaskan aksi dalam meningkatkan investasi, mempercepat teknologi dan akses akses dan transisi dalam konteks yang beragam,” tambah Yudo.

Yudo menyebutkan rencana aksi G20 dalam Perluasan Kerja Sama Internasional. Salah satu yang menjadi sorotan adalah teknologi dekarbonisasi pembangkit listrik.

“Indonesia sebagai Presiden G20 ingin mengidentifikasi area kerja sama baru.

Baca Juga   Lebih dari 15.000 startup, 2.000.000 pekerjaan teknologi baru di Kerala dalam 5 tahun ke depan: CM Pinarayi Vijayan

Rencana aksi G20 juga akan pentingnya memobilisasi sumber energi transisi, di samping prioritas aksesibilitas dan teknologi. Hal ini sejalan dengan Arahan Presiden Joko Widodo tentang pentingnya pendanaan dalam akselerasi transisi energi, dan forum G20 penting untuk memobilisasi kebutuhan tersebut. Tanpa adanya dukungan penuh seluruh pemangku kepentingan untuk menyediakan dana, transisi energi tidak dapat di jalur.

Semua negara G20 mewajibkan bahwa ETWG harus menghasilkan bisa dikirim yang lebih konkrit. Indonesia memaparkan rencana kerja ETWG yang akan disambut baik oleh seluruh delegasi. Hasil sidang ETWG-1 akan ditinjau perkembangannya pada pertemuan ETWG ke-2 bulan Juni 2022 di Labuan Bajo.

“Harapannya pada saat ETWG-3 bulan September di Bali, kami akan menyepakati output dan komunike Menteri Energi G20,” tutup Yudo.

Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam pembukaan sidang ETWG-1 menyampaikan transisi energi sebagai jangka panjang pengambilan strategi NZE dalam meminimalkan perubahan iklim sekaligus menekan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Keterlibatan negara-negara G20 diharapkan menjadi stimulus bagi akselerasi proses transisi energi. What G20 telah memberikan kontribusi 80 persen perekonomian dunia.

“Saya yakin negara-negara G20 telah menapkan transisi energi untuk mencapai NZE sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara, ekonomi, sosial dan energi serta kemampuan teknologi, mulai dari tahun 2050 hingga 2070,” tegas Arifin.

Meski demikian, Arifin mengakui transisi energi harus menyesuaikan dengan kondisi dan target pencapaian masing-masing negara.

“Ini bukan tugas yang mudah. ​​Beberapa dari kita telah merasakan manfaat transisi energi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Namun, ada juga negara lain, termasuk Indonesia, yang membutuhkan terobosan kebijakan, dukungan finansial, dan kemitraan teknologi untuk mendorong transisi energi, ” jelasnya energi,” jelasnya .

Baca Juga   Bupati Anna Mu'awanah Rencana Kembangkan Adminduk Berbasis Teknologi

Arifin juga musik penggunaan energi fosil dalam pembangkit listrik di masa mendatang.

“Indonesia sendiri penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara di tahun 2060 akan pensiun. Jika kita tidak mengantisipasi, produk-produk kita akan kena pajak karbon,” tuturnya.

Pengembagan Penelitian dan Pengembangan (R&D) salah menjadi satu faktor penting bagaimana efisiensi teknologi berjalan mulus mendukung pemanfaatan EBT.

“Kita harus melakukan riset-riset untuk melakukan inovasi terkait hal ini. Jika kita tidak melakukan persiapan di masa transisi ini, kita akan pengeluaran banyak motto kita,” tandas Arifin


Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

Konten Premium

Masuk/Daftar

.


Source link